Bekerja di Perusahaan Multinasional: Berani?

Sudah lebih dari dua tahun Indonesia bergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan konsep ini, negara-negara ASEAN sepakat untuk membentuk pasar tunggal dan sistem perdagangan bebas. Selain untuk meningkatkan daya saing, MEA juga bertujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN. Dampak MEA yang jelas terasa bagi Indonesia adalah terciptanya pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja.

Pasar bebas sebenarnya bukan hal baru bagi Indonesia. Sudah bertahun-tahun lamanya banyak perusahaan asing atau multinasional menancapkan cakarnya di tanah air. Tenaga kerja asing juga diperbolehkan mencari penghasilan di Indonesia. MEA hanya membuka keran pasar bebas lebih besar. Akibatnya, para tenaga kerja Indonesia harus lebih gigih dalam bekerja. Kini saingan mereka bukan hanya sesama anak bangsa, namun juga tenaga kerja dari lintas negara.

Untuk menumbuhkan kesadaran dan menambah pengetahuan mahasiswa akan hal di atas, Program Studi Sarjana Manajemen UNPAR menyelenggarakan kuliah umum dengan tema Manajemen Hubungan Industrial. Sub tema yang diambil adalah, “Bekerja di Perusahaan Multinasional: Berani?”. Kuliah umum ini digelar pada Senin (5/3) di Aula Gedung 9, Fakultas Ekonomi UNPAR. Diselenggarakan dari pukul 13.00 – 15.30 WIB, kuliah umum diikuti oleh lebih dari 200 mahasiswa yang sebagian besar adalah mahasiswa dari Prodi Manajemen.

Tiga orang sekaligus didatangkan untuk berbagi ilmu dan pengalaman di kuliah umum ini. Mereka adalah Bapak Didi Ardianto (EVP Human Resources PT Freeport Indonesia), Bapak B. Woeryono (Konsultan Bidang Hubungan Industrial), dan Bapak Edi Permadi (Presiden Direktur PT J Resources Bolaang Mongondow). Ibu Indrasari Tjandraningsih yang merupakan salah satu dosen di Fakultas Ekonomi berperan sebagai moderator.

Masing-masing narasumber diberi waktu 20 menit untuk membagikan pengalamannya. Didi Ardianto banyak bercerita tentang bagaimana ia mengelola sumber daya manusia yang ada di PT Freeport Indonesia. Total jumlah pekerja yang mencapai 33-ribuan orang menjadi tantangan besar baginya. Perbedaan latar belakang budaya, suku, dan hal-hal lainnya perlu dikelola dengan baik demi menjaga produktivitas perusahaan.

Edi Permadi menjadi narasumber kedua yang berbagi ilmu. PT J Resources Bolaang Mongondow adalah perusahaan tambang emas yang mempunyai area eksplorasi di Indonesia dan Malaysia. Sebagai presiden direktur, Edi bercerita tentang nilai-nilai yang dijunjung tinggi perusahaannya. Selain skill yang tentu harus dikuasai oleh para pekerja, PT J Resources Bolaang Mongondow juga menanamkan nilai-nilai perusahaan yaitu, ownership, integrity, passion, innovation, dan respect. B. Woeryono sebagai narasumber terakhir banyak bercerita tentang pengalamannya selama menjadi konsultan di bidang hubungan industrial. Aspek hukum di bidang ketenaga kerjaan banyak disinggungnya. Sebagai orang yang sudah malang melintang menjadi konsultan dan membantu banyak perusahaan besar seperti Salim Group, PT Toshiba, PT Panasonic, PT Sumitomo, dan masih banyak lagi, Woeryono menyimpulkan ada empat prinsip yang bisa jadi pedoman dalam hubungan industrial.

Keempat prinsip tersebut adalah, 1. Kepentingan bersama (pengusaha, pekerja, pemerintah); 2. Dibangun di atas nilai-nilai kekeluargaan, musyararah, dan itikad baik; 3. Harmonis, dinamis, dan berkeadilan; 4. Menjaga ketenangan berusaha dan bekerja. Terakhir, ia menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar meningkatkan soft skill dalam bidang komunikasi dan bernegoisasi.

Kurang lebih 40 menit terakhir kuliah umum Manajemen Hubungan Industrial digunakan untuk sesi tanya jawab. Kuliah umum lalu ditutup dengan kuis kecil-kecilan. Para narasumber balik bertanya kepada mahasiswa. Mereka yang berhasil menjawab pertanyaan mendapat buku sebagai hadiahnya.