DIGITALK: Creative Economy in Digital Era

Memasuki tahun 2018, kemajuan teknologi digital semakin kentara dan terus mengubah kehidupan masyarakat. Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen (HMPSM) mengangkat fenomena tersebut dalam Seminar Nasional 2018: Digitalk yang bertema “Creative Economy in Digital Era”. Kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu (21/4) lalu dihadiri oleh mahasiswa dan kaum muda yang tertarik pada fenomena digitalisasi dan perkembangan ekonomi kreatif, khususnya di Indonesia.

Dalam kegiatan seminar sehari penuh ini, para peserta mendapatkan wawasan baru yang berkaitan dengan fenomena-fenomena seputar ekonomi dan khususnya manajemen aktual langsung dari narasumber di bidangnya.

Diangkatnya tema ini tentu tidak asal-asalan. Menurut Dorotea Wulan selaku ketua pelaksana Seminar Nasional, memasuki era teknologi digital, timbul suatu fenomena yang mana teknologi mampu bersaing dengan sumber daya manusia. Manusia nantinya hanya dibutuhkan sebagai operator. “Satu-satunya sumber daya yang tidak bisa digantikan teknologi adalah sumber daya intelektual,” jelasnya, yang salah satunya tercermin dalam kebangkitan ekonomi kreatif. Kegiatan ini, lanjutnya, dapat mempersiapkan angkatan kerja muda, seperti mahasiswa agar mampu bersaing dan menghadapi perubahan-perubahan di era digital.

 

Dari kebijakan hingga pengalaman ekonomi kreatif

Kegiatan seminar dibagi menjadi empat sesi. “Kita start from the bottom, dari ekonomi kreatifnya dulu, setelah itu ke teknologi-teknologinya,” tuturnya yang akrab disapa Dora. Pada sesi pertama, Hari Santoso Sungkari selaku Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Indonesia memberikan gambaran arah perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Pemaparannya dilanjutkan oleh Arvinda Tripradopo, pendiri Skytree dan dosen di Fakultas Ekonomi (FE) Unpar.

Acara dilanjutkan dengan gelar wicara yang menghadirkan pendiri LOOKATS Project dan kontestan Asia’s Next Top Model, Veronika Krasnasari. Terakhir, kegiatan ditutup oleh dua narasumber terakhir, yaitu Devina Aureel (Instagram Content Creator) dan Tinton Putro (COO dari bobobobo.com). Para narasumber ini mewakili generasi pekerja kreatif Indonesia yang akan membagikan pandangan dan pengalamannya pada para peserta seminar.

Ada yang berbeda dalam seminar ini. Panitia menggunakan pendekatan yang berbeda dalam kegiatan seminar nasional 2018. “Atmosfernya memang kita bawa santai banget,” kata Doro. Salah satunya adalah adanya elemen kejutan yang ditujukan bukan hanya bagi para peserta, namun juga bagi pembicara. Hal ini menambah kemeriahan dalam acara tersebut.

Melalui Seminar Nasional 2018, Dorotea berharap para peserta dapat memahami ekonomi kreatif dan digitalisasi industri dengan lebih baik. “Kita berharap pemaparan yang kita berikan sampai ke mereka,” tuturnya. Tidak hanya memahami, namun juga mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi, khususnya menghadapi dunia industri digital ke depan.

Sumber : http://unpar.ac.id/ekonomi-kreatif-dalam-era-digital/