Tuesday , 26 September 2017
Home » Berita » Meningkatkan Daya Saing UKM Melalui SCORE

Meningkatkan Daya Saing UKM Melalui SCORE

Meningkatkan Daya Saing UKM Melalui SCORE

Hasil Kolaborasi UNPAR dengan BEDO dan ILO

Bertempat di Auditorium D3 Manajemen Perusahaan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), kegiatan Sosialisasi SCORE Unpar Batch 2 diselenggarakan pada Senin, 12 Juni 2017. SCORE yang merupakan singkatan dari Sustaining Competitive and Responsible Enterprises ini dilaksanakan oleh Program Studi Sarjana Manajemen Fakultas Ekonomi UNPAR. Program tersebut digelar untuk kedua kalinya setelah pada tahun 2016 lalu sukses dilaksanakan dan berhasil memberdayakan beberapa Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Bandung dan sekitarnya.

Selain dihadiri oleh dosen-dosen Fakultas Ekonomi (FE) UNPAR, kegiatan Sosialisasi SCORE juga diikuti oleh beberapa pejabat Dinas Koperasi UKM Kabupaten Bandung, serta belasan pelaku UKM dari Kota Bandung dan sekitarnya. Elisabeth Natalia sebagai SCORE Expert Trainer diundang sebagai pembicara untuk menjelaskan apa itu SCORE dan bagaimana program ini akan dijalankan. Ia memaparkan bahwa SCORE adalah program untuk menciptakan UKM yang lebih produktif, lebih kompetitif, dan lebih bersih sehingga dapat menyediakan pekerjaan yang tetap dan layak. Setidaknya ada empat target yang ingin dicapai melalui program ini, yaitu memperkuat kerja sama dan komunikasi pimpinan-karyawan, meningkatkan kualitas dan produktifitas, mengurangi limbah usaha, serta meningkatkan kondisi kerja. SCORE membantu para pelaku UKM untuk mencapai target-target tersebut dengan beberapa solusi berbiaya serendah mungkin. “Kalau bisa malah tanpa biaya sama sekali,” ujar Elisabeth.

Pada tahun ini, SCORE UNPAR akan dilaksanakan mulai Juli hingga Oktober 2017. Dosen-dosen FE menjadi coach dan trainer yang siap melakukan kunjungan, pendampingan, dan workshop ke pelaku-pelaku UKM yang menjadi peserta SCORE. Melalui pelatihan ini para pelaku UKM akan mendapatkan manfaat seperti peningkatan produktivitas selama tiga sampai enam bulan setelah pelatihan dan naiknya kerja sama serta komitmen pekerja terhadap perusahaan.

Selain Elisabeth, Program Studi Sarjana Manajemen juga mengundang dua peserta SCORE Batch 1 yang mengisahkan bagaimana program ini berdampak positif bagi usaha mereka. Testimoni tersebut dibagikan oleh Bapak Hanung (owner Stranough Guitar Technology) dan Bapak Widodo (owner Mukena Fathiya). Sebelum mengikuti pelatihan SCORE, Hanung sebenarnya sudah menjalankan usahanya hampir 15 tahun lamanya. Namun ia menganggap dirinya adalah pribadi yang senang belajar dan haus akan ilmu-ilmu baru. Menurutnya, SCORE memberikan perspektif lain yang berguna baginya untuk menyesuaikan diri akan pasar yang selalu berubah. Dampak positif begitu terasa bagi Hanung dan usahanya yang bergerak di pembuatan, modifikasi, service, dan hardcase gitar. Kini ia justru lebih sering di luar perusahaan untuk memberikan pelatihan SCORE dan konsultasi bisnis ke pelaku UKM di daerah-daerah lain bersama dengan Elisabeth. Sistem yang dibangun SCORE memungkinkan Hanung untuk memercayakan usahanya ke karyawannya, tanpa harus takut roda produktivitas perusahaan terhenti meski ia tidak ada di tempat.

Kisah bernada positif juga dilontarkan oleh Widodo selaku pemilik Mukena Fathiya. “SCORE itu memberikan solusi yang sederhana, tapi konkrit,” kata Widodo mantap. Ia sangat bersyukur punya kesempatan untuk mengikuti SCORE Batch 1 dan merasakan banyak perubahan baik setelah mengikuti pelatihan. Komunikasi dengan karyawan yang semakin baik dan meningkatnya loyalitas karyawan ke perusahaan adalah contohnya. Menurut Widodo, dua hal ini sangatlah penting karena itulah “nyawa” bagi sebuah perusahaan. Perubahan lain yang Mukena Fathiya rasakan adalah produktivitas yang efisien dan efektif. Ia dan karyawannya menjadi tahu bagaimana menyisihkan barang yang sudah tidak terpakai, menggolongkan bahan produksi sesuai kategori, dan sebagainya. Satu hal lucu yang ia ceritakan adalah ketika ia tanpa sadar menyimpan “sampah” (sisa bahan produksi dan barang tidak terpakai) di pabriknya. Setelah coach SCORE mendampingi dan memberikan evaluasi, Widodo harus membuang barang-barang tersebut yang ternyata hingga dua truk banyaknya.

Cerita Hanung dan Widodo adalah kisah nyata bagaimana SCORE berdampak konkrit bagi para pelaku usaha, khususnya yang berskala kecil dan menengah. UNPAR berkomitmen untuk membantu pelaku UKM  bersama dengan BEDO (Business & Export Development Organization) sebagai lembaga non-profit dengan misi mengembangkan industri kecil menengah dan jejaring di Indonesia, serta didukung oleh ILO (International Labor Organization), melalui penyelenggaraan Program SCORE UNPAR. Elisabeth memaparkan bahwa program ini setidaknya sudah dijalankan di tujuh kota di Indonesia, termasuk Bandung. Selain Indonesia, secara internasional SCORE juga dilaksanakan di delapan negara lain yang di antaranya adalah Vietnam, China, Colombia, dan Afrika Selatan. Elisabeth mengingatkan bahwa Indonesia perlu bersiap untuk menghadapi perdagangan bebas antar negara, apalagi sudah dari 2016 lalu diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN. SCORE ingin membantu pelaku-pelaku UKM untuk meningkatkan daya saing mereka, tidak hanya secara lokal dan nasional, tetapi juga di tingkat internasional.

Di akhir sesi kegiatan Sosialisasi SCORE ini dilakukan penanda tanganan Perjanjian Kerja Sama antara UNPAR dengan Dinas Koperasi UKM Kabupaten Bandung tentang Peningkatan Produktivitas bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kabupaten tersebut. Setidaknya ada 40 pelaku UMKM di Kabupaten Bandung yang bersiap menjadi peserta pelatihan program ini.

IMG_6882IMG_7149 IMG_6992 IMG_6991